Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Rabu, 02 Juli 2014

Yang Harus Disukai



Menikmati sesuatu harus menyukainya terlebih dahulu. Itu yang selalu ku bilang pada mereka, mereka yang mendengarkanku, mereka yang memintaku untuk berbicara. Aku membayangkan diri sebagai orang yang tahu akan itu, merasakan secara penuh dan nyata. Tapi sepertinya aku sedikit berbohong, berbicara ngawur.

Memang, pernah aku rasakan sendiri hal itu. Menyukai sesuatu dengan sangat tanpa ada paksaan. Sangat suka. Jika diminta untuk menjelaskan banyak alasan akan itu, aku menolak, memilih untuk diam saja. Karena bagiku banyak alasan itu sama saja. Aku tidak punya alasan yang substansinya beda dengan alasan lain. Yang aku tahu, aku menyukainya. Dari dulu, dulu sekali.

Lalu apa yang kau rasakan saat hal yang kau sukai perlahan pergi? 
Mengutuk diri?
Mencari yang lain?
Mencoba terbiasa dengan dirimu yang baru?

Hal yang aku sukai, tidak lagi ku temui tiap hari. Berganti dengan yang baru, yang (sangat) harus aku sukai. Jika tidak, tak ada tempat untukku di sini. Nihil. Aku masih mencoba membiasakan hal baru yang malah pernah ku jauhi dulu.

Aku bukannya menolak hal baru untuk ku tahu, bukan itu. Aku bisa saja langsung menyukai suatu hal dalam sekali pandang, sekali mencoba. Beda dengan hal ini menurutku, suasana ini. Beri aku waktu sedikit lagi, biar aku mencoba untuk beberapa waktu lagi. Aku berani mencobanya, tapi hanya butuh waktu. Meski sudah banyak jam-jam berlalu dalam usahaku. Biar aku mencoba lagi.

Dan biarkan di sedikit waktu senjang, aku bertamu pada hal-hal yang dulu aku sukai. Agar tidak kurasakan kehilangan sepenuhnya. Dan, aku masih mencoba.

Rabu, 23 April 2014

Mereka Pena dan Aku Mata

 
http://penulis165.esq-news.com/2013/artikel/09/03/mata-pena.html
Aku terkadang bingung, bagaimana pikir mereka dapat mengalirkan kata. Merangkai kalimat dengan begitu mudahnya. Memilah-milih diksi yang pas dan kemudian membuatnya ke dalam suatu tulisan, puisi, cerpen, novel, dan apapun. Kata-kata mereka mengalir apa adanya, tanpa beban, tanpa sekat. Seperti air, seperti sungai, yang bahkan ketika tiba di laut, kata itu masih saja bergerak, terbawa ombak, dibelai angin. ya, kata mereka terasa dinamis,mistis.

Sering bacaku menjelajah ke dalam kata-kata mereka. melalui cerpen, puisi, novel, ataupun blog-blognya. selalu saja kutemukan diriku, dalam pikir yang terhipnotis dengan alur yang mereka ciptakan. dalam detik, menit, atau jam kemudian aku tersadar, kata-kata mereka telah masuk, mengendap, kalaupun menguap, selalu ada bekas yang tertinggal. Membuat goresan kecil.

Aku masih bingung dengan mereka. dengan segala kejutan yang mereka ciptakan. apa yang mereka makan? buku-buku kah? pena kah? Aku percaya mereka masih waras. Sama sepertiku, seperti kita, kalian. Hanya saja mereka cuma terbiasa dengan segala itu, pikirku. Meluangkan waktu sejenak bertamu pada kata, berjumpa dengan makna, kemudian asyik mencipta alur-alur yang cuma mereka pahami sendiri-pada awalnya.

Saat itu, mereka menjelma sebuah pena, dengan tinta pelangi, dengan ujung yang penuh penasaran. Kemudian, buku adalah apa yang mereka pijak, tanah mereka. Tempat bermain, bersenda gurau, dengan kata dan sahabat-sahabatnya. Imajinasi mereka adalah kelerang, kayu, luncuran, kartu, kucing, dan apapun yang bebas mereka mainkan. Sesuka hati, sesuka mereka.Pikir mereka pun adalah apa yang mereka ucapkan, kebahagiaan yang spontan terlontar, kebebasan tanpa batas. Dan, pada akhirnya, hati mereka lah menjadi seorang kakak. kakak yang senantiasa mengawasi serta mengingatkan ketika mereka bermain terlampau jauh. Seorang kakak yang selalu ada, ketika mereka terjatuh dan sulit bangkit. 

Lalu, apa aku juga harus membiasakan diri dengan segala itu. Dengan dunia mereka, yang belum sepenuhnya aku pahami betul. Sekedar melirik pun, mungkin aku lebih memilih menutup mata. Dunia mereka terlalu indah, terlalu misterius, terlalu mistis. Sedang duniaku, terkekang dalam realistik kaku, keras saperti batu. Imajinasi malah enggan menyatu, atau pun sekedar bertamu di penghujung waktu. Sulit. Sulit diriku menjadi sebuah pena. Aku hanya bisa jadi mata, membaca dan mengagumi kata yang mereka cipta. kemudian, ketika kelopakku tertutup, yang tersisa hanya goresan kecil, lebih kecil mungkin. Dan, saat aku menutup untuk waktu yang lama, yang tersisa hanya sepi, sunyi.

Wahai mereka, ajak aku kedunia yang mereka cipta sendiri. Atau, kalaupun mereka enggan, setidaknya biarkan aku jadi mata. Mata hati mereka, mata kaki mereka, mata pena.

Bintaro, April 2014
Beberapa menit setelah menjelajah makna.

Selasa, 07 Januari 2014

Pesan Bunda di awal Agustus



Malam ini langit cerah sama seperti kemarin. Tidak ada awan, tidak ada asap, atau apapun yang dapat menghalangi pandanganku ke atas. Yang ada Cuma sebuah lampu besar Bundar yang kusebut bulan dan anak-anak mungilnya yang bermanjaan di sekelilingnya. Bintang gemintang jelas terlihat berkilau, menggantung di langit malam. Sesekali ku lihat cahayanya mengedip ke arahku. Apa dia sedang menggodaku ? haha... biarlah. 

Sudah hampir semalaman aku terpaku di depan monitar laptopku. Aku begadang lagi hari ini, tapi bukan sekedar menonton film atau bermain game kesukaanku seperti malam-malam kemarin. Bukan. 

Aku menguap sesekali. Kantuk ku sepertinya sudah memberontak. Tapi aku tak mau tertidur dulu. Jam dinding mengingatkanku bahwa saat ini hari telah berganti. Hari kemarin sudah kulewati, tentunya tidak ada yang spesial. Hanya seharian di kamar berkutat dengan game-game kesukaanku dan ratusan slide film.

Pangumuman SBMPTN harus aku lihat sebelum ku terlelap. Dan aku ingin namaku ada di daftar siswa-siswa yang lulus, tentunya di perguruan tinggi idamanku. Aku sudah belajar dengan sangat keras. Setiap bangun tidur, siang, maupun malam kuhabiskan waktuku dengan belajar. Kuhabiskan satu per satu soal-soal SBMPTN tahun-tahun sebelumnya. Aku yakin dengan usaha yang kulakukan. Aku yakin dengan doa yang kupanjatkan dalam tiap solat dan dzikirku. Aku yakin bisa lulus. 

Aku harus lulus. Akan ku jadikan kelulusanku ini sebagai hadiah ulang tahun untuk Bunda. 

Aku mengambil bingkai foto di samping meja belajarku. Aku pandangi tiap detil dalam gambar itu. Ada aku yang masih 13 tahun bersama Bunda dan kedua adikku, Indra yang saat itu masih 5 tahun dan Winda di gendongan Bunda. Wajah mereka berempat tersenyum manis ke arahku. Bahagia sekali mereka saat itu. Tidak terlihat sedikitpun kesedihan dalam mata mereka berempat. Kenangan yang indah.

Aku memperhatikan lagi. Di foto itu tidak ada ayah. Aku tidak tahu persis bagaimana wajah ayah. Kata Bunda, ayah meninggal saat aku masih sangat kecil. Saat aku masih belum bisa merangkak. Rumah kami pernah terbakar kata Bunda , dan tidak ada satupun yang tersisa. Termasuk foto ayah. Wajahnya samar-samar kuingat, ingatanku sewaktu bayi tidak bisa menggambarkan wajah ayah secara sempurna.

Ku letakkan foto itu, dan ku ambil foto yang satunya lagi. Ada seorang wanita di foto itu. Aku menatapnya lekat-lekat. Sepasang mata, gurat alis, lekukan dagu, dan semburat senyum. Bunda. Senyum yang tak dapat kulupakan. Senyum yang dapat menghilangkan segala beban pikirku. senyum yang selelu saja kurindukan bahkan saat aku tidak melihatnya untuk beberapa jam.

Satu-satunya wanita dalam hidupku yang sangat ku kagumi. Wanita yang selalu tegar menjalani kehidupan dengan ketiga anaknya. Sepeninggal ayah, Bunda merawatku dan kedua adikku. Hanya sendirian. Aku juga bingung bagaiman Bunda begitu hebatnya membesarkan kami dengan hanya seorang diri. Tidak pernah sekalipun kulihat wajahnya muram ataupun kudengar dia mengeluh. Yang ada hanya senyuman manisnya yang menyambutku ketika pulang sekolah, ketika makan malam, dan sebelumku terlelap di tiap malamnya.

Tapi, pernah sekali tak sengaja aku mengintip dari balik kamar Bunda. Bunda sedang mengadahkan tangannya, berdoa sambil terisak. Mulutnya berkata-kata dalam diam. Aku tak tahu mengapa Bunda menangis saat itu. Apakah mungkin dia lelah dengan hidupnya ? ataukah itu adalah air mata bangga karena anak-anaknya sudah tumbuh besar ? aku tidak tahu pasti. Tapi aku yakin, itu adalah air mata bangga. Tak mungkin Bunda menangis sedih.

Bunda dan dua adikku pasti sudah tertidur lelap di kamar sebelah. Malam sudah semakin larut dan aku masih terjaga dalam penantianku. “Pasti beberapa menit lagi”batinku.

Sudah jam 2 tepat. Pengumumannya ternyata sudah ada. Segera ku masukkan nomor peserta dan tanggal lahirku pada kolom yang sudah disediakan. Jantungku berdegup lebih cepat, entah mengapa koneksi internet berjalan lebih lambat rasanya. 

Dan ternyata...

“Bunda... Aku lolos di perguruan tinggi idamanku” Aku memeluk Bunda dari belakang. Pagi ini Bunda sedang membuatkanku roti bakar dan selai kacang kesukaanku. 

“Alhamdulillah... jadi kamu ambil ???” Bunda berbalik ke arahku. Aku melepaskan pelukanku dan menatapnya dengan raut penuh kegembiraan. Tapi kulihat ada kegelisahan di wajah Bunda.

“iyalah Bunda... Bunda juga tahu kan aku udah lama mengidam-idamkan bisa kuliah di situ”
Bunda tersenyum padaku. “Baiklah kalau gitu nak,, belajar baik-baik yah disana. Jangan kecewain Bunda”

Aku mencium tangan Bunda. Memeluknya dan segera berlari kegirangan ke kamar. Akhirnya impian ku sebentar lagi dapat kuwujudkan. Tidak sia-sia juga waktu dan usaha yang sudah kukorbankan untuk belajar. Tuhan memang maha mendengar doa hambanya.

Tapi...

Aku masih bingung dengan ekspresi Bunda tadi. Apa Bunda tidak senang kalau aku kuliah ditempat itu ??? aku teringat tentang apa yang perbah Bunda katakan padaku seminggu yang lalu. Bunda bertanya padaku apkah akan aku mabil jika aku diterima di tempat itu. Aku mengiyakan dan ekspresi Bunda sama dengan yang tadi.

“Bunda tidak pernah melarang kamu untuk kuliah dimanapun, tapi kamu harus ingat kedua adikmu. Bunda sudah tua. Bunda tidak yakin bisa merawat adik-adikmu saat kamu tidak ada di samping Bunda” 

***

Sebulan kemudian. Dengan izin Bunda dan kedua adikku, aku resmi jadi mahasiswa di universitas idamanku. Jaraknya sangat jauh dari tempat tinggalku. Butuh berjam-jam bahkan berhari-hari perjalanan bus ke sana. Bunda berpesan untukku agar selalu menelpon dan memberi kabar padanya. Dan itu yang aku lakukan tiap hari.

Sehabis kuliah aku menelpon Bunda. Kutanyakan kabarnya, kabar kedua adikku, pekerjaan Bunda, dan macam-macam pertanyaan lainnya. Ku pastikan keadaan mereka baik-baik saja, dan kupastikan mereka tahu keadaan dan kuliahku disini juga baik-baik saja. Ada rasa kangen tiap ku dengar suara Bunda. Aku rindu senyuman dan pelukan Bunda. Ahh... aku benar-benar tidak akan mengecewakan mereka.

“rin... Bunda pamit dulu ya. Beras di rumah sudah abis. Bunda mau pergi beli dulu yah. Assalamu alaikum”
“mw pergi beli dimana Bunda ???”
“tuuut...” panggilan terputus.
“wa alaikum salam” 

Tidak biasanya Bunda seperti ini. Tiap Bunda akan pergi ke suatu tempat pasti selalu memberitahuku tempat yang dia tuju. Aku menepis pikiran aneh dari otakku.
Ponselku berdering. Indra, adik pertamaku.
“Kak... Kak.. Bunda kecelakaan !!!” teriak indra dari ujung sana.
Aku segera pulang ke rumah.
***
Bunda kecelakaan saat mengendarai motornya ke warung. Sebuah mobil menyerempetnya dan Bunda terjatuh. Dari arah lain, sebuah motor menabrak Bunda dan motornya. Aku dan kedua adikku sangat sedih. Seminggu aku di rumah dan tak ingin rasanya kembali kuliah. Aku masih ingin merasakan sedikitpun sisa-sisa keberadaan Bunda di rumah ini.

Tidak mau mengecewakan Bunda. Awal agustus aku kembali kuliah. Tapi jiwaku terasa masih mengendap di rumah. Aku kangen senyum Bunda.

Ku telpon Tante Tiara. Tante Tiara yang sekarang merawat kedua adikku.
“ya rin, kami disini baik-baik saja” aku baru sadar suara Tante Tiara hampir mirip dengan suara Bunda.
“alhamdulillah klo gitu Tante. Salam buat Indra dan Winda yah” aku bersiap mengakhiri telepon.
“rin..”
“iya Tante..”
“aku titip kedua adikmu yah. Jaga mereka baik-baik” suara di ujung sana membuatku kaget.
“maksudnya Tante ?”
“tuuuuut....”
Ada apa dengan Tante Rani ? tapi, suara tadi seperti suara Bunda. Aku menelpon lagi.
“iya kak... ada apa ?” indra mengangkat telepon.
“mana Tante Tiara ?”
“Tante Tiara dari tadi  tidur di kamarnya kak, ini ponselnya aku ambil di meja ruang tengah”
Aku menutup teleponnya. Bunda ? itu suara Bunda? Benar. Tadi itu bukan Tante rani, itu Bunda. Tapi apa benar itu Bunda ? Aku pusing.

Apa maksud perkataan Bunda tadi ? 

Apa Bunda ingin aku ada di samping adik-adikku ? Bunda ingin aku yang menjaga mereka? Firasatku berkata benar itu pesan dari Bunda.  Tapi akal sehatku tidak mau mengalah dengan hal gaib seperti itu. Bunda sudah tenang di sisi-Nya. Untuk apa Bunda kembali dan mengatakan itu padaku. 

Tiga hari aku berpikir. Dan fine, aku pulang sekarang. Tante dan adik-adikku sempat kaget dengan kedatanganku. Kujelaskan semuanya pada mereka. Tentang pesan yang Bunda sampaikan padaku. Meski tidak percaya, tapi mereka memaklumi.

Maka jadilah sekarang. Aku kuliah di universitas tidak jauh dari rumahku. Menjadi sekretaris Badan Eksekutif Mahasiswa sekaligus asisten dosen. Dan aku tidak akan pernah lupa pesan Bunda di awal agustus. Dengan segenap raga dan jiwaku, kedua adikku ada dalam penjagaan dan lindunganku. Aku sayang Bunda.