Tampilkan postingan dengan label Puisi-Ku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi-Ku. Tampilkan semua postingan

Kamis, 25 Mei 2017

Memeluk Puisimu

http://trendtek.republika.co.id


antara semesta dan matamu, aku belajar mencari jalan pulang
hal yang terlambat kau impikan karena malam sudah berlalu duluan.
melihat dan mengecup keningmu waktu itu
adalah ingatan yang ingin ku buang
dari balik jendela rumah tua kita

fajar hari ini tetap saja sama. kau selalu merenggut
aku di tengah-tengah tidurku dan memelukku kembali
usai puisi-puisi yang kau ciptakan menjadikanku perih. dan pada
ziarahku tempo hari, aku memeluk nisanmu lagi

ingatkah, dipelukan siapa kau ingin berpuisi?

Rabu, 21 Desember 2016

Perihal Memilikimu dan Tidak pada Akhirnya



Sebuah kegelisahan lahir dari mereka yang memiliki hatimu
Perihal kebosanan dan pergi adalah waktu yang datang dari sela langit-langit
Ingin ku katakan kepadamu bahwa aku benci menjadi bahagia
Jika masih ada titik-titik air yang mengaburi jendela mu dan keropos yang mengikis demi sedikit kursi kayu yang pernah kita punya

Semua berubah, terlihat tidak jelas
Aku dan bayanganmu bukan lagi menjadi kita
Mereka memilikimu lebih dariku mencoba mendekapmu

Sajak-sajak diciptakan dari cerita yang tidak biasa
Tapi tidak ada yang istimewa dari pujangga yang menghadiahi kekasihnya dengan tinta, kertas, dan kata-kata
Apalah arti sebuah cinta jika patah hati membuat kita menjadi orang lain, menjadi mereka

Di dinding kamarku, ada gambar kita yang sedang berdiri di antara bunga dan masa lalu
Di jantung rahasiaku, ada potretmu yang tidak berkata apapun

Hatimu tetap bukan milikku pada akhirnya
Tapi sajak-sajak malah selalu menjadi kamu dan kita
Kenangan selalu memiliki duri, namun jadi bukan apa-apa bagimu
Sepasukan kegelisahan yang datang pergi, sekumpulan hati dilukai dan sembuh lagi.

Minggu, 23 Oktober 2016

Persinggahan yang Paling Nyaman



Aku memilih untuk selalu jadi persinggahan yang paling nyaman
Pada suatu hari kita bertemu, tidak ada kata atau cerita, aku seperti ini dan kau tampak cantik seperti biasa
Puisi yang mewakili selamat tidurku untukmu selama itu berhasil mengusir mimpi buruk
Dan membawamu melewati jalan-jalan di persimpangan mataku

Aku selalu tahu bahwa jatah bersamaku sudah ditetapkan bagi setiap wanita
Kita akan tertawa terus selama beberapa waktu, selebihnya kita berdua tenggelam bisu
Aku pernah berdiam di senyummu kemudian kau campakkan diujung air mataku
Barangkali lebih baik aku tahu sejak awal bahwa menjadi persinggahan yang nyaman tak seburuk dari sekedar tidak jadi apa-apa
Kita bertaruh untuk tidak melupakan satu sama lain sampai nanti
Kita lelah dengan kalimat cinta dan dusta yang hampir tidak ada bedanya
Mencintai sesuatu membuat kita benci dengan kehilangan
Padahal kita tahu betul, kehilangan membuat ‘saling memiliki’ lebih penting dari apapun

Aku tidak ingin mencintaimu lebih cepat
Aku ingin bersamamu lebih lama
Kelak akan kuhiraukan dinding-dinding yang menyudutkan pikiranmu

Dan ku sampaikan sampai jumpa dari jauh hari karena kita tidak tahu kapan kata-kataku hilang dari telingamu

Anak dan Surga di Tubuh Mungilnya



Ada surga di tubuh mungil anak-anak itu
Rumah tempat mereka bermain menjelma tempat pulang
Juga tempat mengawali kepergian dan entah kapan kembali
Anak kecil dengan surganya sendiri tidak pernah membenci
Sebesar apapun kehilangan yang pernah meninabobokannya

Seorang ibu membohongi anak-anaknya tentang masa lalu
Jauh sebelum itu, sekumpulan masa depan dikecupkan dikeningnya
Tidak ada menunggu yang lebih cepat dibanding melihat anaknya tumbuh
Lalu bertanya kemana ayah mereka selama ini
Seorang ibu melagukan tembang tidur kembali dan berharap
Mimpi menjadi ruang bermain dengan rumput lebat yang menciumi kakinya
Selebihnya, tanpa mereka tahu, lelaki tua mencari jalan pulang yang hilang dari tidurnya

Surga di tubuh mungil itu bisa menjadi persimpangan
petunjuk jalan yang panjang, jika saja dia berhenti menoleh
Dan andai semesta dimana setiap kedatangan
adalah perihal yang terpaksa dirahasiakan
Seorang ibu hanya harus tidak berhenti menyapuhkan jemari
di punggung anak-anaknya
Sampai besok pagi, langit pun merindukan kepulangan

Dan lupa jalan kembali ke tempatnya mengucapkan selamat tinggal

Cinta yang Menunggu Kedatatangan


Satu-satunya terlampau yang paling aku relakan adalah mencintai kehadiranmu
Di pusat rahasiaku, seorang pujangga menelurkan kata-kata tanya
yang tidak henti saat hari ini tidak ada nafasmu
Aku tidak ingin seperti pohon mati yang tidak bisa sekedar menggandeng tanganmu
Seperti laki-laki tua yang menyenangi asap rokok dibanding masanya menjelang tiada

Kucoba menyusun wajahmu menjadi satu bingkai yang kutenggerkan di pengharapanku
Kita berharap bertemu pada satu kesimpulan
Bahwa cinta dapat melebihi angka-angka di langit dan di bumi
Setiap cinta adalah jalan terbaik bagi orang yang mengerti kesendirian
Dan paham betul arti tidak memiliki apapun selain dirinya sendiri

Tidak seperti kita yang masing-masing memliki banyak hal untuk dibawa saat tidur
Aku mencintaimu melebihi mimpi yang kau janjikan padaku dulu
Kita berdua adalah anak kecil yang menyemai rindu di tubuh sendiri
Jika aku sakit, ku yakin betul bahwa doamu perlahan menyembuhkanku
Dan kantuk yang kudera sekian lama karena menantimu akan terbalas
Dengan sebuah senyum di depan pintu rumah kita

Barangkali aku lebih baik menggunungan sajak untukmu
Sampai kau tahu bahwa tuhan memusahkan dan menyatukan bukan tanpa alasan
Satu-satunya kehadiran yang paling aku relakan adalah terlampau mencintaimu

Minggu, 11 September 2016

Kelak di Suatu Rindu


Kelak di suatu rindu, kita berdiri dan merasakan jantung kita berdenyut seirama
Penyesalan yang pernah tertinggal disudut matamu karena terlalu gampang menyayangiku
Juga menganggap cinta sebagai perasaan yang jatuh seperti senja dan kehilangan yang menyertainya

Kauingat, menantiku tidak segampang menitipkan surat pada kaki merpati yang terbang menempuh kesepianmu
Kata-kata seperti rintik hujan yang memiliki awan lalu kemudian meninggalkannya, kata-kata tidak lebih setia dibanding masa lalu
Waktu yang kukecupkan di keningmu saat menyebut namamu berulangkali menjelma hantu
Tubuh-tubuh yang tidak punya mata untuk mengartikan seberapa lama hati kita memerah, padam. Kemudian jatuh

Kamu dengan suaramu yang halus tidak pernah menyisakan sesuatu yang sia-sia di pendirianku
Agar aku memiliki jarak yang tidak terlalu menyesakkan, juga tidak mejandikanku pemanggul dengan lengan yang panjang untuk sekedar mencapai tidurmu
Hatiku tidak pernah pergi kemana-mana, ku penjarakan di sepengetahuanmu, tidak kubolehkan ada kata lain kecuali sajak tentangmu
Peluh yang jatuh jauh di dalam tubuhku akan kering sementara hati kita yang sudah jatuh basah kembali

Sepanjang itu, kita masih sepasang kekasih yang belum bisa saling menggenggam jemari dan  menenggelamkan diri di dada masing-masing

Kamis, 11 Agustus 2016

Pagi yang Kita Punyai Hari Ini




Jauh di dalam dirimu
  kau sedang mendamaikan ingatan tentangku
Lentera kecil di matamu sudah sedemikian redup
  ada angan yang terpaku di sudut rumah itu
Engkau memiliki semua tentangku, tentang masa lalu kita,
 dan kesunyian yang dlu kita benci sedemiaikian rupa

Kita sudah terbiasa bersama menghabiskan waktu
 sambil menerbangkan tertawaan
Kita pun sudah kebal dengan perpisahan, jam yang bergerak lambat
 dan doa-doa yang dilafalkan hingga bosan dan lupa
Seorang yang paham betul arti kesendirian sepertimu harusnya tahu
 bahwa Cinta bisa menembus rahasia-rahasia dan menghiasi sebuah kotak hadiah

Aku kembali hadir dari masa lalu yang pernah disela oleh tangan takdir
Menagih sepiring nasi dan kehidupan yang pernah kita hadapi
Kamu masih ingin hidup sejenak, sekedar kembali mengingat sekilas
Seperti apa rupa kita berdua di bingkai foto
 dan rengekan anak-anak di tiap akhir sore

Pagi yang kita punyai hari ini tidak akan lama
Setidaknya bisa untuk menyambut kedatanganku 
Juga kepergianmu
   
Makassar, 11 Agustus 2016
Aahmfauzi

Sabtu, 25 Juni 2016

Kami Belum Mengerti Arti Perpisahan




Aku tidak akan lupa bunyi lonceng sekolah di tiap pagi
Beberapa lembar kertas dan buku di atas meja
Juga langkah-langkah kecil sepatu kami menuju kelas

Aku memang belum paham arti sebuah perpisahan
Aku sangat ingin besok lagi, udara masih di ujung hidung kami
Dan awan bergerombol setiap pagi
Juga tawa kalian yg kudekap sebelum papan tulis kelas ditulisi ibu atau bapak guru
Sepasukan ingatan yang tidak ingin ku hilangkan, tidak akan lenyap

Haruskah kita ragu untuk bertemu jika pada akhirnya dipisahkan juga?

Menurutku tidak

Dalam rindu nanti, kita akan belajar bagaimana menghargai waktu
Bersama ibu bapak guru, teman-teman, buku dan pulpen, nilai tinggi ataupun merah, juga hari ini

Pun dalam rindu nanti, kita hanya berpisah sebentar
Tuhan dengan segala keajabainnya, punya banyak cara mendekatkan yang jauh, menmpertemukan murid dan gurunya, dan mempertemukan kita

Kita tidak usah takut untuk menjadi kesepian nantinya
Akan ada banyak orang, senyum-senyumnya yang baru
dan mungkin sapaan yang berbeda dengan hari ini

Pada akhirnya, ku bacakan puisi ini
Untuk mewakilkan teman-temanku
Bahwa satu kaki kami sudah beranjak pergi
Tapi satunya lagi masih berpijak dan tertahan disini
Sekedar ingin mengucapkan terima kasih dan selamat tinggal
Juga mencium tangan ibu bapak guru untuk sekali lagi

Kita terkadang harus berpisah untuk menjadi sesuatu yang baru
Menjadi lebih baik dari sekarang
Mencari pengalaman dan belajar di tempat lain
Karena disini sudah banyak kenangan yang tetap ada hingga nanti

Maafkan kami ibu bapak guru
Atas luka dan sakit yang kami perbuat padamu
Tolong maklumkan polosnya kami
Sebab dari kesalahan, kami belajar menjadi lebih baik
Dari kesalahan, kami berusaha menjadi lebih berbakti

Terima kasih ibu bapak guru
Atas jasa kalian yang begitu mulia
Atas semangat yang kami petik dari keikhlasan hati
Atas waktu-waktu indah yang pernah terlewati

Kami memang belum paham arti perpisahan
Tapi setidaknya, sudah mengerti bahwa doa kalian selalu ada buat kami
Maka kemanapun pergi, atau jadi apapun kami nanti
Ada kalian dalam bagiannya
Dan kita tetap bahagia walau akan berpisah
Kita bersyukur pernah dipertemukan
Dan kita bersyukur pernah disatukan dalam kebahagian
selama enam tahun yang rasanya tidak begitu panjang

Jika Besok Indonesia Sudah Tidak Ada






Jika besok indonesia sudah tidak ada
Mereka yang asing dan tidak sempat mengenal Indonesia- termasuk anak-anak kita
Tidak akan bertanya “Bisakah tongkat yang ditancap ke tanah menjadi tanaman?”

Ketika maut mengecup kening kita
Tidak ada yang nyata selain kenangan-kenangan
Yang sepertinya pernah kita tinggalkan di sebuah tempat
Hari-hari harus dilalui tanpa lagu kebangsaan
Tanpa pekikan lima butir ideologi di depan gedung sekolah
Juga tidak ada lambang Negara yang dipajang di tengah-tengah dua bingkai yang terhormat

Indonesia adalah tandus yang pernah ditumbuhi pepohonan dan harapan
Tapi sakit di dalamnya telah menunggu sekian lama sejak tengah ibu kota sampai pinggiran desa
Ku dengar kabar, di antara orang-orang berdasi, rakyat sempat menaruh percaya
Tapi, pada suatu pagi, berita-berita riuh di TV mereka
Mata hati yang mati terus memenuhi kantor-kantor berita Ibu kota

Negeri ini adalah kapsul waktu yang tidak menyisakan apa-apa selain orang-orang sok pintar
Negeri kita adalah tempat dimana orang-orang sok bijak sedang mabuk duduk melingkar
Di meja kayu sambil menata masa depan kita
Juga tangan-tangan yang sudah sepakat dengan imingan di bawah meja
Negeri dimana setiap kali pagi tiba, kau sudah membawa badan dengan tangan kosong
lalu mendengar bisikan dan desah bahwa cinta dan masa depan selalu dibayang-bayangi oleh uang

Jika besok indonesia sudah tidak ada
Setidaknya aku ingat pernah mencintai dengan tulus
Dan masih ada manusia-manusia seperti kita yang menata masa depan
Tanpa berpura-pura

Jika besok indonesia sudah tidak ada
Mungkin aku akan mengunjungi negeri lain
Sambil menggenggam tangan yang baru
Akan ku ceritakan ke mereka tentang sebuah negeri
Yang dulu sangat sibuk tersenyum di depan kamera
sambil menggunungkan pundi-pundi pribadinya

Jika besok indonesia sudah tidak ada
Juga tidak akan ada lagi mereka
Setidaknya itu lebih baik?

Menurutku tidak
Seperti pohon mati menunggu angin datang menumbangkan dahannya,
Bunga-bunganya mungkin sudah mati tapi serbuknya berhasil menyelinap di sela tanah
Saat itu, kita siap membasahi masa depan baru, mencari Tuhan agar mampu menemukan Indonesia kembali





Kamis, 09 Juni 2016

Perihal Memilikimu dan Tidak pada Akhirnya




Sebuah kegelisahan lahir dari mereka yang memiliki hatimu
Perihal kebosanan dan pergi adalah waktu yang datang dari sela langit-langit
Ingin ku katakan kepadamu bahwa aku benci menjadi bahagia
Jika masih ada titik-titik air yang mengaburi jendela mu dan keropos yang mengikis demi sedikit kursi kayu yang pernah kita punya

Semua berubah, terlihat tidak jelas
Aku dan bayanganmu bukan lagi menjadi kita
Mereka memilikimu lebih dariku mencoba mendekapmu

Sajak-sajak diciptakan dari cerita yang tidak biasa
Tapi tidak ada yang istimewa dari pujangga yang menghadiahi kekasihnya dengan tinta, kertas, dan kata-kata
Apalah arti sebuah cinta jika patah hati membuat kita menjadi orang lain, menjadi mereka

Di dinding kamarku, ada gambar kita yang sedang berdiri di antara bunga dan masa lalu
Di jantung rahasiaku, ada potretmu yang tidak berkata adapun

Hatimu tetap bukan milikku pada akhirnya
Tapi sajak-sajak malah selalu menjadi kamu dan kita
Kenangan selalu memiliki duri, namun jadi bukan apa-apa bagimu
Sepasukan kegelisahan yang datang pergi, sekumpulan hati dilukai dan sembuh lagi.

Menanyakan Rindu





Jogja benar-benar telah menawarkan rindu
Langitnya tampak cantik karena kalian masih ada disana
Juga kenangan yang menjelma tugu di tengah-tengah jalan
Dari ketinggian tertentu aku menatap kalian dan garis imajiner
Di antara kita kian perlahan, menutup hari-hari dan ditumbuhi akar
Yang menjalar sampai ke rumah kita.

Kupikir kita akan pulang dengan siluet-siluet lama di kepala
Di depan malioboro, aku ingin menggenggam tangan kalian
Dan mengatakan bahwa cinta seperti sebuah obat pil
Tapi tidak bisa menyembuhkan luka lama di hati
Selalu ada cinta dan kalian di mimpi adik kecilmu
Selalu ada puisi tentang kalian. Di luar kepalaku,
Yang lainnya adalah asing. Selalu aku menginginkan kalian

Sesekali aku jadi suara-suara dari jauh yang cerewet
Kata-kataku selalu menuntut kepulangan dan pertemuan
Kadang aku jadi kucing penurut, menjawab iya di setiap kalimat
Lalu hanya berdiam, membayangkan senyum yang sumringah di sisi dunia yang lain disana
Kalian harus tahu, selama ini aku belajar menangis tanpa isak dan air mata
Dan sudah lama kuhentikan percakapan tentang cinta dan kematian

Perih yang paling sulit kucintai adalah perihal yang paling kalian cintai kini
Hal yang tidak ingin ku percaya bahwa kalian bahagia tanpaku
Aku pernah punya mimpi indah tentang kita bertiga, langit jogja
dan kerinduan yang kita lukis di mata-mata yang terjun darinya tetes hujan
malam-malam berikutnya, aku melihat foto keluarga yang baru tapi tanpaku
alasan utama kalian bahagia harusnya adalah aku, bukan mereka

Kita selalu tahu, kehilangan pernah merenggut dunia lama kita
Kita belajar menjauhkan diri dari segala yang terjadi waktu itu
Terjebak pada doa dan ciuman terakhir dan semesta kala itu seakan berkata
Kelak laki-laki tua akan membimbing kita ke surga, berkumpul dengan perempuan
Yang selalu kita doakan
Aku yang akan menghapus kesedihan kalian, tapi untuk saat ini
Biarkan aku menanyakan rindu untuk kesekian kalinya

Doa yang Bisa Kau Amini




Tidak pernah ada yang istimewa dari sebuah perayaan
Kecuali orang-orang yang berpura bahagia dan
Senyum yang sedetik dua detik cepat berganti
Tapi di tempat ini, teman-temanmu membicarakan tentang
betapa beruntungnya kau ada disini

Orang-orang kadang belajar dengan cara mengabaikan
Jika pada suatu pagi, kami tidak mengerti apa-apa
Dosen menjelmamu , dan aku menulis sajak tentang
Perempuan yang terlampau baik di ruangan ini

Kita akan berhenti di setiap tanggal pada tahun-tahun berikutnya
Kau tahu ada hari-hari tertentu dalam hidupmu dimana dunia akan menyapamu via suara
Memanggil-manggil dan menanyakan kabarmu
Serta sajak tentang kebahagian yang lahir sebab pernah menjadi temanmu
Hari yang ditakdirkan selalu datang kepadamu,
dan hari itu kau harus selalu

karena ada banyak doa yang bisa kau amini dan doakan kembali

Jumat, 03 Juni 2016

Bunga Bagi yang Sulit Melupakan Kekecewaan



Kau setidaknya haru tahu bagaimana laki-laki diciptakan
Mereka adalah pemaaf yang sangat handal
Tapi laki-laki pun selalu tidak bisa tidak menyisakan kekecewaan
Mereka payah untuk melupakan, terlalu payah bahkan

Maka jika dia nanti sekan menjauh
Itu bukan karena dia sedang marah atau tidak mau lagi bertemu
Tapi kekecewaan memang seperti perompak ulung\
Mengendap diam-diam, hanya saja kau tidak tahu
Lalu batas-batas tercipta  dari proses melupakan yang tidak singkat
Jauh datang dari rentetan peduli yang tidak pernah dipedulikan
Maka biasakanlah

Jadilah bunganya, yang meski rapuh tapi membuatnya tahu
Bahwa duri pun tidak hanya punya tajam yang membuat luka

Duri masih punya mawar untuk dijadikan kesayangan

Senin, 02 November 2015

Seperti Janjiku

Mudah saja untuk melepaskan
tidak melihat
tidak lagi mendengar
tidak mau lagi tahu

Tapi masa yang sudah tercipta
yang membuatku sadar bahwa
kau tidak boleh ditinggal sendiri
meski nyatanya kau tak akan pernah sepi

Hanya saja sulit untuk tidak peduli
pada masa lalu kita
yang(kuharap) jangan sampai terulang kembali
padaku, pada yang lain
cukup kau setia pada janjimu, tekadmu
cukuplah sampai aku

Hingga nanti sebisa adaku, untukmu
untuk melihatmu
untuk mendengarmu
untuk tahu
seperti janjiku

Bintaro, 3/11/2015

Sabtu, 31 Oktober 2015

Dia, Kau, dan Cerita-cerita

Dia mungkin saja jadi cerita
seperti yang dulu kau ungkap di meja dan di jalan
Dia mungkin saja jadi mereka
seperti yang kau ajaknya tuk tertawakan
atau cukup abaikan

Dia bukan tidak perhatian
tapi mencoba memberi perlindungan
dalam diam, tanpa banyak kata
melihat dari balik arah
yakinkamu bersama siapa, amankah?

Dia tidak berharap banyak
hanya sekedar menimbun jejak
dan yakinkanmu tetap bahagia
tanpa harus mengulang jejak basah yang sama

Dia tidak hanya peduli
tapi dia ingin sejenak sampai suatu hari
kalian tak saling sapa lagi
kau sudah dapat yang kau ingin
kau dambai

Dan dia tak mau banyak mengataimu tentang apa-apa
karena kau telah bilang padanya
kau tidak suka itu semua, kau cuma ingin yang kau suka
jadi dia akan jadi tetap seperti dirinya
yang peduli tanpa banyak kata

Hingga dia akan jadi cerita
seperti mereka-mereka
bisa saja kau hapus jejaknya
atau jejak kalian dihapus cerita
atau cerita hanya tak akan jadi kalian

Jumat, 23 Oktober 2015

Dipelukan Garuda

Bintang-gemintang redup senyap
Besi-besi tua renta, rantai penuh karat
Bintang-gemintang redup senyap
Besi-besi tua renta, rantai penuh karat
Pohon besar mati tiada tempat teduh
Banyak kepala yang keras seperti kepala banteng
Gagal panen dimana-mana, padi kapas percuma ditani

Aahh,,
Negeri ini porak poranda
Aku ingin cari tanah lain
Untuk ku buat sajak-sajak
Atau langit lain untuk berteduh sejenak

Atau aku ingin mati saja
Dipelukan garuda
Karena disini pemimpin sudah lupa
Dan rakyatnya menolak untuk tidak lupa

Garuda tak usah berlelah memeluk Pancasila
Cukup peluk aku, sampai aku tertidur
Bangunkan jika orang-orang sudah ingat lagi
dan Pancasila bukan lagi sekedar mantra
dan kau bukan lagi sekedar burung tua renta

Jika pun sampai aku mati
Di pelukanmu, Garuda
Biar saja
Itu lebih baik dibanding mati dipeluk negeri ini

Jumat, 02 Oktober 2015

Mulai Berhenti

Pada binar yang kesekian aku ingin berhenti
Menyebut namamu atau sekedar bertamu rindu

Teruntuk hati yang sulit dirajai, aku mulai memahami
Menerimaku dulu adalah palsu
Dan melepasku kini hanya butuh satu-dua orang lain

Lalu aku berbisik
Menunggu sejenak di depan pintu dan siap mengetuk
Sebab kupikir sesuatu yang jangan sampai kau ulangi
Sebab kuingat apa yang kau ingin ubah darimu lagi

Bila peduliku tak bisa lagi menyapa sadarmu
Rinduku seluas semesta harusnya tak usah mengawang tinggi
Dan binar yang kulihat kemarin jangan muncul kembali

Pada akhirnya seperti menunggumu tahu
Bahwa hatiku masih seperti dulu
Bahwa kau kini perlahan jauh

Senin, 06 April 2015

Semisal Malam Itu Tidak Ada Kau

lantern bird candle shadows light book
freehdwalls.net

semisal malam itu hanya ada aku, kau hanya
senyuman untuk yang lain
embun yang menempel di meja akan tetap
basah semalaman kemudian lenyap bersama pagi

tak ada tawa gadis yang kudengar atau mata yang
menyembunyikan cerita-cerita
yang lalu kau ungkap satu-satu
padaku di meja lain, setelah itu

aku tak pernah menuntut alasan mengapa kau ada
malam itu, memandangku bingung
sedang aku menatap layar laptop sambil membaca sok tahu
sedikit membaca gerakmu dan menyimpan rahasiamu

semisal malam itu tidak ada kau, tak ada puisi yang
bisa kuimpikan
tidak ada waktu yang harus kuingat dan bulan yang dikenang
bahkan tak ada yang sudi bertanya kenapa
aku bisa menahan berton-ton rindu

semisal malam itu hanya ada aku, tidak ada kau
aku tak begitu yakin malam itu akan seperti apa

semisal malam itu tidak ada kau
aku tak begitu yakin akan ada dia

Bintaro, 7/4/15


Jejak Kita yang Belum Lama

clock watch bokeh
freehdwalls.net

mungkin adalah konyol jika kukatakan
bahwa sudah sedemikian lama jejak-jejak tercetak
di tanah dan hujan tidak bisa menghapusnya
atau angin enggan menepis bekas-bekas kita

padahal masih hitungan bulan aku mendengarmu
bercerita tentang cinta-cinta yang sudah terlewat
aku pun belajar menahan cerita tentang wajah-wajah baru
yang melukis tiap senyum dan tawamu

rasanya sudah sedemikian lama
jika kita tidak pernah sadar waktu berjalan sangat lambat
seakan pernah terikat
hingga tak ada sekat
tak ada jejak yang tak teringat

sangat dekat

aku masih menanti jejakku kau hapus tanpa sisa
atau jejakmu kau hapus sendiri
atau
jejak kita disatukan cerita

Bintaro, 7/4/15