
Jogja benar-benar telah menawarkan rindu
Langitnya tampak cantik karena kalian masih ada disana
Juga kenangan yang menjelma tugu di tengah-tengah jalan
Dari ketinggian tertentu aku menatap kalian dan garis
imajiner
Di antara kita kian perlahan, menutup hari-hari dan ditumbuhi
akar
Yang menjalar sampai ke rumah kita.
Kupikir kita akan pulang dengan siluet-siluet lama di kepala
Di depan malioboro, aku ingin menggenggam tangan kalian
Dan mengatakan bahwa cinta seperti sebuah obat pil
Tapi tidak bisa menyembuhkan luka lama di hati
Selalu ada cinta dan kalian di mimpi adik kecilmu
Selalu ada puisi tentang kalian. Di luar kepalaku,
Yang lainnya adalah asing. Selalu aku menginginkan kalian
Sesekali aku jadi suara-suara dari jauh yang cerewet
Kata-kataku selalu menuntut kepulangan dan pertemuan
Kadang aku jadi kucing penurut, menjawab iya di setiap
kalimat
Lalu hanya berdiam, membayangkan senyum yang sumringah di
sisi dunia yang lain disana
Kalian harus tahu, selama ini aku belajar menangis tanpa
isak dan air mata
Dan sudah lama kuhentikan percakapan tentang cinta dan
kematian
Perih yang paling sulit kucintai adalah perihal yang paling
kalian cintai kini
Hal yang tidak ingin ku percaya bahwa kalian bahagia tanpaku
Aku pernah punya mimpi indah tentang kita bertiga, langit
jogja
dan kerinduan yang kita lukis di mata-mata yang terjun
darinya tetes hujan
malam-malam berikutnya, aku melihat foto keluarga yang baru
tapi tanpaku
alasan utama kalian bahagia harusnya adalah aku, bukan
mereka
Kita selalu tahu, kehilangan pernah merenggut dunia lama
kita
Kita belajar menjauhkan diri dari segala yang terjadi waktu
itu
Terjebak pada doa dan ciuman terakhir dan semesta kala itu
seakan berkata
Kelak laki-laki tua akan membimbing kita ke surga, berkumpul
dengan perempuan
Yang selalu kita doakan
Aku yang akan menghapus kesedihan kalian, tapi untuk saat
ini
Biarkan aku menanyakan rindu untuk kesekian kalinya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar