Minggu, 07 September 2014

:'

Saya terlalu takut kehilangan dia. "Sangat Takut"
Hingga rasa itu malah membuat dia merasa bahwa saya semakin menjauh darinya. Tidak, itu hanya perasaanmu. Disini, saya menggenggam janji. Memikul harapan darimu dan dari mereka yang sungguh kusayangi.  Bagimu, saya mungkin berubah, tidak seperti dulu. Ketahuilah, Saya hanya terlalu takut kehilanganmu. Terlalu takut membuatmu marah padaku. Terlalu takut dengan sifatmu yang terlalu sensitif.
Mungkin ini karena jarak dan waktu, kita berdua berubah seiring memanjangnya jarak dan lamanya waktu kita tidak bersama. Saya tidak semerta-merta menyalahkan jarak dan waktu. Karena dengannya kita masih bisa tahu bahwa kita masih ada untuk satu sama lain. Hanya saja, sepertinya jalan pikiran kita harus lebih dewasa untuk menyikapi semuanya.

Lebih bijak mengartikan sesuatu yang diluar keinginan. Lebih hati-hati melangkah karena akan lebih banyak kerikil di jalan-jalan kita. Lebih percaya pada sesuatu yang tak dapat kita lihat, tak dapat kita rasakan secara langsung. Lebih memahami bahwa kondisi kita memang sudah tidak sama lagi dengan satu-dua tahun yang lalu.

"Beradaptasi pada perubahan"

Jumat, 22 Agustus 2014

Liburan!!! Jangan jadi jamur di Kosan

Keadaan kamar setelah UAS Akuntansi. Kapal Pecah.

Akhirnya... Akhirnya... Akhirnya UAS semester 2 sudah selesai :D

Kalian tahu bagaimna rasanya? setelah 2 minggu dilanda beban UAS yang sedemikian beratnya, dihantui siang dan malam, membuat gelisah saat terjaga dan terbaring lelah. Kalian tahu rasanya seperti apa? Surga Dunia Bro...


OK,,, OK,, sorry tadi itu agak lebay. Intinya, UAS semester 2 sudah selesai dan kini saatnya untuk berlibur selama kurang lebih 5 minggu. Sayangnya, liburan selama itu tidak bisa kunikmati bersama keluarga dan kampung halaman. Yah saya tetap stay di Bintaro, di kosan, sampai semester 3 dimulai kembali-dan entah sampai kapan. Jatah balik kampung sudah saya ambil kemarin pas lebaran. Jadinya, liburan kali ini saya tidak bisa bertemu dengan keluarga dulu. Sedih juga sih, tapi rasanya biasa aja. Toh udah terbiasa dengan hal seperti ini, dan memang harus dibiasakan mabro.

Yah, dan buat yang tercinta, "Maaf yah, saya belum bisa pulang kali ini. Kita akan bertemu lagi di saat yang tepat."

Seperti yang saya bilang kemarin, sensasi UAS itu luar biasa. Selama 2 minggu, harus berkutat dengan materi-materi UAS yang begitu banyak. Sibuk mencari kisi-kisi di sana-sini, di fotokopian, di WA, di temen, dimana saja. Ujian kali ini paling minim kisi-kisi, kalaupun ada itu cuma hoax, penipuan. Satupun gak ada yang manjur. Untuk hasilnya nanti, cuma doa yang bisa dipanjatkan sekarang. Semoga IP ku naik. Amin

Beberapa jam setelah UAS berakhir. Selonjoran di kosan sambil liat orang main tenis dan dihembus oleh angin sore.

Duduk di jendela kamar teman sambil ngobrol-ngobrol.
Sip, Jadi apa rencana kegiatan selama 5 minggu liburan (di kosan) ini??? 
Sebuah pertanyaan besar bagi mahasiswa, sepertiku, yang tidak pulang kampung saat liburan panjang. 

Yang pasti, waktuku akan banyak saya habiskan di kosan. Lebih tepatnya di kamar "tercinta" ini. Sampai sekarang belum ada rencana spesifik mau mengisi liburan dengan kegiatan apa saja, tapi sudah ada beberapa item kegiatan yang sudah saya pikirkan. Jangan jadi jamur lah, apalagi kalo sampai jadi fosil -_-"

Beberapa minggu kemarin, saya dan beratus mahasiswa lain terpilih menjadi "Panitia Orientasi Mahasiswa Baru 2014". Kalo di STAN lebih dikenal dengan istilah "DINAMIKA". Di event ini saya terpilih di bidang "Penugasan dan Penilaian" atau P2, sebelumnya bernama "Penugasan dan Evaluasi" atau Peneva.

Kalian tahu seperti apa Peneva itu? Mereka adalah si tokoh antagonis. Mereka yang bertugas menghakimi pelanggaran yang dilakukan oleh Mahasiswa Baru selama proses Dinamika berlangsung. Pokoknya, orang-orang yang di bidang ini memang sudah dirancang agar dibenci oleh Mahasiswa Baru. Apa yang dilakukan Peneva tiap harinya selama Dinamika? Memasang wajah serius (tanpa senyum, tanpa ekspresi), marah-marah, lari-larian, memberi tugas, dan hal-hal "sangar" lainnya. Jadi untuk calon mahasiswa baru STAN 2014 yang membaca postingan ini, siap-siaplah kalian betemu dengan kakak-kakak peneva atau P2 di Dinamika nanti. Sebisanya jangan buat masalah dengan mereka jika kalian mau hidup tentram selama Dinamika berlangsung.

Lucunya, teman-temanku banyak yang tidak percaya saat tahu kalau saya terpilih di bidang itu.
"Gak Pantes"
"Kamu terlalu baik ji"
"Emang bisa marah-marah?"
dll

Hahaha,,, kalian tidak tahu saja, seperti apa saya ketika masih menjadi senior di asrama. Saya tidak perlu menceritakan di postingan ini.Lain kali saja. Intinya, kalian belum tahu siapa diriku yang sebenarnya. "Evil Laugh"

Sudahlah,,,

Sejuta Mabro. Pertama kalinya saya dihutangin sebanyak ini.
Jadi sampai Dinamika diadakan bulan depan, akan ada pelatihan berat untuk kami. Katanya sih, bakal dilatih oleh Kopassus dan latihannya setingkat semimiliter. Tidak apa-apa lah, daripada gabut, gak ada kerjaan, di kosan.

Selain mengisi liburan dengan persiapan Dinamika. Rencananya, saya juga akan membuat beberapa kerajinan tangan. Untuk yang satu ini, saya tidak mau memberitahukannya dulu. Soalnya masih dalam proses. Butuh modal, padahal sekarang lagi miskin-miskinnya karena banyak tabungan di orang-orang. Dan kalian tahulah, sangat sulit membuat mereka sadar untuk membayarnya. #curhat



Intinya, UAS sudah berlalu dan liburan telah menyambut. Saatnya refreshing dan menyegarkan kembali jiwa an raga yang selama 2 minggu kemarin sangat terkekang. Dan untuk teman-teman yang kembali bertemu dengan keluarga dan handai taulan, sampaikan salamku pada mereka atau minimal bawakan oleh-oleh lah. Sampai bertemu kembali di Bintaro. Tentunya di semester baru dan semangat baru. Juga "kelas baru".

Bakal pisah kelas dengan kalian ;'(
D3 Akuntansi Kelas 2-L

Kuliah Pengantar Akuntansi II terakhir, bersama Pak Andy.

Jumat, 15 Agustus 2014

Masih ada 4 hari Bung !!!

Sip, minggu pertama UAS sudah diselesaikan. Setengah beban sudah hilang, tinggal melewati dan menyelesaikan UAS minggu kedua. Akuntansi, Lab Akuntansi, Agama, dan KWN. Semoga lebih baik lagi. Amin.
Modul Ekonomi Mikro


Jadi, selama seminggu ini, lebih tepatnya 4 hari ujian (Pajak, Manajemen, Ekonomi Mikro, Hukum Perdata). Yang saya lakukan tiap hari itu sama saja. Bangun jam 3 subuh buat Solat Tahajud dan belajar sampai jam 5. Abis itu, sholat subuh dan kembali tidur sampai jam 7. Haha... Jam tidur tidak boleh berkurang mas bro.

Belajar Pajak dari PPT Dosen dan soal Tutor
Berhubung jadwal UAS spesialisasi Akuntansi adalah jam 11 pagi, so saya bisa mengambil sedikit waktu untuk tidur dulu sebelum ujian. Bangun, belajar lagi, mengulang-ngulang materi yang dipelajari semalam. Belajar pagi tidak sekeras pas malamnya, takutnya pas ujian malah stress. Jadi lebih enjoy, sekali-kali putar musik atau nonton video di Youtube ditambah ngemil. Sip. Makan pagi, solat duha biar berkah dan diberi kemudahan, dan membaca Al-Qur'an di surah Al-Waqi'ah. Nah, Solat duha dan surah Al-Waqi'ah sebelum ujian ini sudah menjadi kebiasaanku sejak di pesantren. Ini diajarkan oleh salah satu Ustad ketika sedang belajar di kelas. Katanya membaca surah Al-Waqi'ah itu bisa memperlancar urusan termasuk ujian yang akan dihadapi. Tips buat teman-teman juga nih.

Berangkat ke kampus setengah jam sebelum ujian. Dan selama kurang lebih dua setengah jam ujian pun berjalan.Setelah ujian, makan siang dan tertidur lagi sampe jam lima. -_-". Malamnya, abis solat maghrib, belajar untuk ujian besok baru dimulai. Jam 11, kembali tidur untuk bangun jam 3 esok subuh.

Ujian selama empat hari ini benat-benar menguras tenaga dan pikiran. Saya tidak pernah merasa se frustasi ini ketika akan menghadapi ujian-ujian sebelumnya. Rasanya ujian di STAN itu lebih "WOW" dibanding Ujian Nasional saat SMA.  Menghadapi ujian-ujian sebelumnya, saya merasa biasa-biasa saja. Ujian sekolah, lomba matematika, UN, ujian masuk universitas, sampai USM. Benar-benar, sensasi ujian di kampus ini "jempol" banget. Ditambah, serangan-serangan psywar dan psytrap yang diluncurkan oleh mahasiswa lain. Membuat suasana ujian jadi semakin sengit.

Jadi, setelah berperang empat hari. Jum'at hari ini benar-benar dimanfaatkan buat refreshing, seharian tadi internetan sambil baca komik naruto. Sudah lama saya tidak up to date dengan jalan cerita naruto, sejak lulus pesantren tepatnya. Tidak lupa menonton beberapa film-film keren pake laptop. Abis solat jum'at tadi, saya pun tertidur dengan pulas dan terbangun 3 jam kemudian.

Senin, UAS Akuntansi. Persiapan masih sangat kurang. Sepertinya sabtu besok saya sudah harus belajar lagi. Sabtu dan Minggu harus digunakan buat belajar Akuntansi. Apalagi ini mata kuliah paling penting untuk Spesialisasiku, D3 Akuntansi. OK, sudah diputuskan.

GO BED NOW zzZZZ...

Sabtu, 09 Agustus 2014

Selamat Pagi Duniaku yang Sebenarnya

  

    Setelah liburan sekitar dua minggu, di Maros, di rumah lebih tepatnya. Takdir membawaku kembali lagi ke Bintaro. Delapan hari ujian akhir semester (UAS) sudah menunggu, duduk ramah, menanti. Meski tidak berada di kampung halaman lagi, hawa liburan--lebih tepatnya hawa malas"an-- masih terasa, belum mau pergi.Ditambah persiapan untuk UAS pun masih belum baik. Untuk UAS hari pertama pun, Pengantar Pajak, sudah berulang-berulang ku baca buku dan slide presentasi dari dosen, hanya segelintir yang bisa lengket di kepala. Sepertinya, Saya belum menyukai pelajaran ini. Memang, saya dulu pernah berkata, "Untuk memahami suatu hal, kita harus menyukainya terlebih dahulu". Dan untuk ini, kata-kata yang pernah terlontar dari mulutku sangat persis dengan keadaanku sekarang.

    But life must go on. Bagaimanpun, UAS ini harus ku lewati dan kuselesaikan dengan baik. Benar, rasa-rasanya zona nyaman telah kutinggalkan semenjak kuliah di sini. Apalagi menjelang ujian, apapun ujiannya, stress tidak jarang datang. Liburan di rumah juga rasanya tidak setenang yang ku harapkan. Tahu bahwa seketika kembali ke bintaro sudah ada UAS yang menunggu. Itu membuatku resah. Tapi, bagaimanpun usahaku untuk belajar di rumah, buku-buku yang aku bawa kebanyakan dan lebih lama terabaikan. Banyak godaan, sebaliknya resah tidak kunjung pergi.

    Untuk membuat postingan baru di blog ku ini pun, sempat ku pertimbangkan dengan diriku sendiri. Rasanya, waktu untuk belajar itu pendek, untuk membuat postingan akan memakan sebagian waktu. Tapi, diriku yang lain berkata , setidaknya (mungkin) sedikit rasa gerahku bisa hilang dengan kembali bersua dengan blog ku ini.

   "Yah, saya harus terima dan berusaha untuk melewatinya, sebisaku, sebaik mungkin."
   
    Saya tahu, yang saya butuhkan adalah "cinta". Cinta pada pelajaran-pelajaran itu. Sepertinya butuh proses, pikirku. Toh, cinta tidak boleh dipaksakan. Dengan sendirinya akan ku temukan cara untuk mencintainya. Mencintai dengan apa adanya. Yah, itu pasti. Tunggu saja tanggal mainnya.

Senin, 14 Juli 2014

Dengar, Hujan Bercerita





Lagi, hujan bertamu pada tanah Bintaro
Seperti hujan kemarin, dan kemarin lagi
Sedang aku tengah sendiri di kamar, Berbaring letih
penat dengan hitungan rupiah dan seragam berkerah
berbaring sejenak lalu

Sayu, menatap hujan yang bermain bersama angin
Serpih-serpih darinya bergelantungan manja di balik jendela
Perlahan meluncur jatuh tanpa suara
Sedang yang lain terjun bebas, bersatu dengan rintik-rintik
Rintik-rintik yang selalu ku kenali
Dari kata-kata yang mereka buat dalam sepi

Hujan memang selalu seperti ini
Datang saat hati bimbang, bingung meliputi
Pada laku-laku yang telah lalu
Dan mereka seakan tak tahu
Padahal jelas dilihatnya detik demi detik berlalu
Lalu mereka tetap saja pura-pura tak tahu

Dingin, aku menutup mata tapi tak tidur
Seperti kemarin-kemarin, ku dengar kembali
Diam, tenang, hujan tengah bercerita banyak sekali
Dalam bahasa yang bisa dimengerti lubuk hati
Seperti biasa, hujan membicarakan hari-hari
Yang mereka lalui, lihat sendiri, tentang bumi pertiwi
Sejak dulu hingga kini tentang manusia-manusia dalam negeri
Menjadi saksi atas laku bangsa ini
Dalam deret waktu, tempat, dan bentuk yang mereka jelmai

Dengar, hujan bercerita
Ketika dirinya menjelma air di gelas-gelas
Dalam gedung-gedung dan kantor-kantor berkelas
Di atas meja orang-orang berdasi atau berbaju dinas
Di depan perundingan, permainan masa depan negeri culas
Dari rupiah-rupiah yang hanya diam meski diperas
Sedemikian rupa, dan senyum mereka merekah sungguh puas


Dengar, hujan bercerita
Ketika dirinya menjelma air di genangan jalan-jalan
Terpercik, terinjak kaki-kaki, roda, dan ban kendaraan
Tapi tak masalah baginya, hujan masih tahan
Hanya saja hujan kembali menyaksikan
Rupiah-rupiah bisu yang sedang dipermainkan
Dari laku curang puluhan pedagang
Menjual mulut dan menipu timbang-timbangan
Pembeli pulang dengan kantong lebih ringan

Dengar, hujan bercerita
Ketika dirinya menjelma titik embun di  sudut ruang pendidikan
Tentang terkesannya pada orang-orang di sekolahan
Tentang kagumnya embun pada generasi harapan
Tentang lembar-lembar yang dipuja para pendidik
Bagaimana tidak yang terdidik mengikuti
Dan pulang ke rumah, meminta kepada ibunya yang sama saja
Melapor kepada bapaknya tentang tambahan uang sekolahan
Sedang si bapak kembali berunding di depan gelas-gelas
Di kantor berkelas, bersama rintik-rintik yang akan bercerita lagi

Selalu begitu, berulang terus
Hujan-hujan selalu menjelma di tempat-tempat
Jadi air, jadi genangan, jadi kerigat, jadi darah
Sungai di  mata-mata
Menjadi bagian lingkaran setan, begitu panjang
Begitu terus


Kristal air lama mengintip di balik awan sana
Menyimpan rasa tentang kabar ibu pertiwi di bawah
Menanti rintik-rintik menguap, kembali ke peraduan
Membawa cerita-cerita untuk berkisah dengan yang lainnya
Lalu, hujan jatuh bebas, membawa cerita dari uap
Dan membuktikan sendiri bagaimana rupa negeri ini
Apa “rupiah masih sama nasibnya?”
Seperti yang diceritakan uap di atas awan
Seperti yang diceritakan padaku, sore ini, di kamar ini

Akan tiba saatnya mungkin, hujan bercerita tentang kita
Saat rupiah sudah kita pertangggung jawabkan
Demi negara, demi bangsa
Aku sendiri tak mau, tak mau lagi, hujan bercerita tentangku
Tentang yang ku lakukan kemarin, aku malu pada hujan, malu padaku
Seperti yang diceritakan uap di atas awan itu
Seperti yang diceritakan padaku, sore ini, di kamarku

Jumat, 04 Juli 2014

Kembali ke Ma'had (2)



Lanjutan dari (Kembali ke Ma'had)
 . . . .



APEL !!!

Salah satu yang kubenci ketika di ma’had. Harapannya tidak akan sering apel lagi ketika sudah lulus, malah di STAN saya pun harus apel lagi. Di IMMIM, santri selalu apel di lapangan sebelum jam masuk kelas. Santri SMP apel tiap hari sekolah, sedangkan SMA tidak sesering yang SMP. Ini adalah salah satu rutinitas yang paling saya benci selama mondok, khususnya ketika masih SMP. Saat lonceng dibunyikan, puluhan santri pasti berlarian secepat mungkin untuk melewati gerbang yang dijaga oleh kakak-kakak ISPIM/OSIS. Dan sering saya terlambat dan mendapat hukuman.Dan di STAN, mahasiswa apel sebelum masuk kelas dan sore sekitar jam 4. Tapi tidak setiap hari, biasanya dua kali seminggu. Ada waktu khusus yang ditentukan tapi juga terkadang apelnya di lain hari diluar waktu yang telah ditentukan. Intinya, tunggu info dari si tukang Jarkom kelas.

Mahasiswa Spesialisasi Akuntansi sedang apel

Bahkan yang lebih mirip lagi, apel di ma’had dan di STAN sama-sama mengadakan absensi. Hukuman untuk ketidakhadiran apel di IMMIM itu bermacam-macam. Mulai dari yang wajar seperti membersihkan, pungut sampah, menghapal  surah-surah Al-Qur’an, ataupun menghapal kosa kata bahasa Inggris  dan Arab, sampai hukuman yang  tidak wajar seperti membersihkan got, membelikan makanan buat senior, memijat senior, ataupun menjadi pesuruh untuk beberapa waktu. Juga hukuman yang paling ringan seperti dimaafkan, hingga yang paling berat yaitu gundul. 

Di STAN, tidak ada hukuman yang pasti untuk ketidakhadiran apel. Hanya saja, lebih ke kesadaran (katanya) untuk bisa berkumpul bersama teman seangkatan dan teman se-spesialisasi. Intinya, saya agak malas untuk ikut apel.


Angkatan dan Jumlahnya

Masuk tahun 2007 dan lulus tahun 2013, makanya nama angkatan(kami juga biasa menyebutnya periode. meskipun sebenarnya angkatan dan periode itu berbeda, yah kami tetap lebih suka menyebutnya periode)ku ketika di ma’had adalah Venor. Singkatan dari Seven One Three (713),  juga ada ketua periodennya (Ketop).  Awal masuk, kami berjumlah 200an santri, jumlah kami semakin tersisih tiap tahunnya hingga menyisakan 62 santri yang duduk di acara wisuda. 
Kelas 3 SMP, sepertinya saya yang mengambil foto ini
Dari foto di atas, sudah terlihat bahwa jumlah 200an saat pertama kali masuk sudah berkurang. 3 tahun sudah mampu mengikis banyak orang dari kami.


Banyak alasan yang membuat jumlah kami semakin berkurang, seperti keluar sendiri karena tidak tahan, dikeluarkan oleh pesantren karena melanggar aturan, ikut orang tua, tinggal kelas dan memilih untuk pindah ke sekolah lain, dsb. Hubungan antar santri se-angkatan menjadi hal penting dan sakral serta solid karena teman seangkatan yang menjadi sahabat kami selama menuntut ilmu di pondok.

Kelas 6, betapa banyak dari kami yang telah gugur
 

Ini video yang menggambarkan bagaimana kenyataan dari angkatan di IMMIM, satu persatu gugur dan hanya menyisakan beberapa orang dari mereka. 
Check this out !!!

Video ini dibuat oleh kakak kelas saya, yaitu periode 410 (2004-2010) atau FOZ (Four One Zero). 


Masuk tahun 2013, dan (Insya ALLAH) lulus tahun 2016. Saya belum tahu apakah angkatan kami di STAN akan membuat nama angkatan. Sedangkan ketua angkatan kami pun juga belum ada, saya juga masih bertanya-tanya apakah akan ada pemilihan ketua angkatan nantinya (Tanyakan pada rumput yang bergoyang). Yang ada cuma ketua angkatan per spesialisasi, itu pun ketua angkatan akuntansi masih entah berantah kepastiannya.

Dinamika 2013

Dinamika 2013

Awal masuk, kami berjumlah 2000an mahasiswa. Menurut kabar kakak kelas, tiap tahun jumlah seangkatan akan berkurang. Tiap tahunnya akan ada mahasiswa yang dikeluarkan atau D.O karena berbagai alasan, seperti nilai IP yang tidak memenuhi standar, keluar dengan sendirinya, melanggar aturan, mencontek, dsb. Tapi kami harap, kami semua bisa bertahan hingga wisuda.

Bedanya, angkatan di STAN lebih banyak (sampai ribuan) dan ada kaum hawanya. Sedangkan angkatan di IMMIM hanya dihuni oleh kaum-kaum adam.


Setengah Sekolah

STAN, Sekolah Tinggi Akuntansi Negara. STAN bukan universitas ataupun institut melainkan sebuah sekolah dengan gelar “tinggi” di namanya. Jika dibandingkan dengan universitas, STAN sedikit berbeda. Jika bisa diibaratkan, STAN itu seperti gabungan antara universitas dan  sekolah. Seperti sekolah pada umumnya, maka banyak aturan-aturan yang berlaku. Seperti pakaian yang harus atasan kemeja dan celana/rok kain, pakaian harus rapi dan sopan, cowok dilarang gondrong, cewek dilarang berhias dan memakai perhiasan uang berlebihan,setiap kuliah harus pakai Nametag, dsb. Begitupun dengan mata kuliahnya dan jumlah SKSnya yang sudah ditentukan setiap semesternya. Jadi tidak ada istilah KRS (Kartu Rencana Studi) seperti yang berlaku di universitas lain. 
 
 Kelas 1-L Akuntansi. Perhatikan seragam dan Nametag-nya, jangan yang lain :p
IMMIM, Ikatan Masjid Musholla Indonesia Muttahidah. IMMIM adalah sebuah pesantren modern yang tidak hanya mengajarkan ilmu agama pada santri-santrinya, tetapi juga mengajarkan ilmu umum seperti sekolah-sekolah lain. Selain belajar Aqidah Akhlak, Tafsir Hadits, Al-Qur’an, Sejarah Islam, Bahasa Arab, dan ilmu agama lainnya, IMMIM juga mengajarkan santrinya tentang Ilmu Eksak maupun Ilmu Sosial seperti sekolah-sekolah pada umumnya. Bahkan dari info yang saya dengar, sekarang tidak hanya bahasa Inggris dan Arab yang diajarkan di pondokku tapi sudah ada bahasa Mandarin (Tapi, saya belum sepenuhnya percaya).

 Kalo ini, terserah mau perhatikan yang mana :D
 
Kelas 6 IPA MA, No Woman No Cry !!!
Jadinya, IMMIM itu seperti gabungan antara Pesantren dan sekolah umum lainnya. Yang menarik juga adalah jumlah ijazah atau kertas kelulusan yang diterima setelah tamat enam tahun belajar di pondok. Ada 6, yaitu ijazah SMP(seperti ijazah pada umumnya), SKHU SMP, ijazah SMA(seperti ijazah pada umumnya), SKHU SMA, ijazah MA (yang dikeluarkan oleh Kementerian Agama), dan Ijazah Pesantren yang tulisannya "Arab" semua

Aturannya pun sama seperti sekolah umum. Yang membedakannya antara lain kewajiban mondok bagi seluruh santri dan juga pelajaran agama yang menjadi kurikulum di dalam proses belajar mengajar.

*Bersambung (Kembali ke Ma'had (3))

Kamis, 03 Juli 2014

Kembali ke Ma'had

Sebenarnya sudah sejak lama saya ingin membicarakan hal ini di blog. Tapi ya, saya lebih asyik merangkai puisi dibanding mem-posting tentang jejak-jekak hidupku. Meskipun sebenarnya beberapa puisi yang kubuat itu terinspirasi dari diriku sendiri. 

Mungkin judul di atas agak membingungkan bagi yang belum tahu apa itu “ma’had”. Ma’had adalah bahasa arab dari pesantren. Kami, santri, lebih suka menyebut ma’had dibanding pondok atau pesantren. Kesannya lebih ke-arab”an gitu. Bahkan kami punya semboyan sendiri, “Anaa Min Ma’had” (saya dari Pesantren). Tiga kata itu seperti kata ‘merdeka’ untuk Indonesia atau ‘eureka’ untuk Archimedes. Kalimat itu menumbuhkan rasa bangga kami sebagai lulusan pesantren yang telah digodok dalam pondok untuk beberapa tahun lamanya.

Setelah lulus pesantren, mencari tempat untuk melanjutkan pendidikan, ikut berbagai tes masuk, dan akhirnya takdir mengantarku ke tanah Bintaro (Baca : Pencarian Masa Depan). Sebuah daerah di Tangerang Selatan. hampir setahun belajar di sini, Sekolah Tinggi Akuntansi Negara, dan sekarang sudah jadi mahasiswa semester dua. 

Awal-awal berada di sini, saya masih merasa biasa-biasa aja. Maksudnya, tidak ada hal yang membuatku menarik. Seperti layaknya seorang perantau yang baru menginjak suatu tempat, seperti itu. Tapi setelah berbulan-berbulan, ada sesuatu yang membuatku merasa akrab dengan suasana tempat ini. Untuk waktu yang lama, saya memikirkan dan akhirny saya yakin...

“Saya merasa seakan-akan kembali ke ma’had.” Kenapa ?

Apa yang membuatku berpikiran seperti itu? Apa Ada kesamaan antara suasana ma’had dengan tempat ini? Jawabannya, YA.

Pondok Pesantren IMMIM Putra Makassar

&

Sekolah Tinggi Akuntansi Negara




OK, di postingan ini saya akan membahas beberapa kesamaan antara yang saya telah rasakan selama enam tahun di ma’had dan suasana yang saya rasakan selama berada disini.

Tempat Tinggal


Peta IMMIM
Di pondokku, ada sembilan asrama yang dihuni oleh seluruh santri. Setiap asrama memiliki nama masing-masing, seperti :
·        (A).  Panglima Polem, 2 lantai dan 4 kamar (Kelas 1 = 1SMP)
·         (B). Syech Yusuf, 2 lantai dan 4 kamar(Kelas 1 = 1 SMP)
·         (C). Fadeli Luran, 2 lantai dan 4 kamar (Kelas 2 = 2 SMP)
·         (D). Hasanuddin, 2 lantai dan 4 kamar (kelas 2 = 2 SMP)
·         (E). Alimuddin, 3 lantai dan 8 kamar, 2 kamar dilantai 3 adalah lab komputer (kelas 3 = 3   SMP)
·         (F). Raja Faisal, 3 lantai dan 6 kamar (kelas 3 = 3 SMP)
·         (G). Ibnu Khaldum, (H). Al-Gazali, dan (I). Buya Hamka. Asrama untuk kelas 4 (1 SMA), 5 (2 SMA), dan 6 (3 SMA). Buya Hamka selalu dijadikan asrama untuk kelas 4, sedangkan untuk Al-Gazali dan Ibnu Khaldum untuk kelas 5 dan 6. Biasanya, untuk angkatan ganjil( seperti angkatanku, 2013) di Al-Gazali dan Ibnu Khaldum untuk angkatan genap. Saya tidak tahu sejak kapan aturan itu berlaku, lagipula idak ada aturan baku yang mengatur hal itu.

keterangan yang lain :
(J) Gedung pusat, ruang pendidikan
(K) Gedung kelas (SMP dan SMA)
(L) Kantin belakang (kabel)
(M)
Dapur 1 (untuk kelas 1 smp)
(N)
Dapur 2 (untuk santri selain kelas 1 smp)
(O)
Masjid Ath-Thalabah

(P) Poliklinik
(Q) Perumahan Ustadz
(R) Toko Santri (Toksan) dan Kantin depan


Peta STAN dan daerah sekitarnya

Sedangkan untuk STAN, ada beberapa tempat yang banyak kosannya di sekitaran STAN.  Yaitu, kalimongso, PJMI, Ceger, Pondok Jaya, Sarmili, dll. 



1) Sarmili:
Lokasi: Barat Laut Kampus STAN
Keunggulan: dekat dengan kampus (bisa jalan kaki atau kendaraan motor/sepeda), dapat akses langsung ke Bintaro Sektor 5 dan jalan raya ceger.

2) Ceger
Lokasi: Utara Kampus STAN
Keunggulan: terletak di pinggir jalan raya besar dengan fasilitas lengkap yang tersebar sepanjang jalan raya ceger.

3) Kalimongso
Lokasi: Timur Laut Kampus STAN
Keunggulan: terdekat dengan kampus. rumah makan, laundry, dan kebutuhan lainnya dapat dijangkau hanya dengan jalan kaki.

4) PJMI (Perumahan Jurangmangu Indah)
Lokasi: Timur Laut Kampus STAN
Keunggulan: merupakan wilayah perumahan, rapi dan kondusif, lengkap dengan penjagaan dari petugas keamanan.

5) Pondok Jaya
Lokasi: Selatan Kampus STAN
Keunggulan: akes langsung menuju jalan bintaro sektor 5. merupakan wilayah perumahan menengah ke atas.
 

Jika diibaratkan, asrama-asrama yang ada di ma’had bisa disamakan dengan nama-nama tempat tadi. Dan kamar-kamar yang ada di asrama disamakan dengan kosan-kosan yang ada di tempat tadi. Hal ini semakin serupa karena saya pernah menjadi ketua kamar di ma’had ketika kelas satu (Baca : Masa Kelas Satu) dan menjadi pembina kamar ketika kelas enam. Di kosanku pun sekarang, saya yang mendapat tanggung jawab untuk mengurusi kosan. 

Selain itu,Ma’had mewajibkan seluruh santri untuk mondok. Jadi, semua santri pastinya tinggal dan menetap di dalam ma’had. Dalam sehari, kita bisa menjumpai satu orang yang sama untuk beberapa kali. Sedangkan disini, sebagian besar mahasiswa STAN adalah perantau dan menyewa kosan di sekitaran STAN. Bisa dipastikan bahwa seluruh mahasiswa tinggal di sekitaran STAN. Sama, kita juga bisa menjumpau sesorang beberapa kali meski tidak sesering di ma’had.

Jadwal Pulang

Di ma’had, santri baru bisa kembali ke rumah masing-masing sebulan(4 minggu) sekali(sehari). Waktu sebulan itu sudah ditentukan oleh pihak pesantren. Kami menyebutnya “perizinan umum”. Biasanya akan ada absensi ketika santri sudah kembali ke kampus. Sedangkan di STAN, meskipun tidak pulang sebulan sekali tapi ada jadwal-jadwal libur tertentu yang ditetapkan oleh pihak STAN. Mahasiswa-mahasiswa pun memanfaatkan waktu libur yang cukup panjang untuk kembali ke rumah masing-masing. 

*Bersambung (Kembali ke Ma'had(2))