Selasa, 18 November 2014

Hujan Enam Jam

 






Menanti hujan turun di kotaku
menerawang langit sedari sepagi
larut-larut tanya kami buncah

"apa tivi berbohong lagi pada kita?"

kudengar raungnya malam tadi, katanya
hujan lebat turun pagi besok
bersama angin-angin riuh
juga daun-daun yang mengetuk jendela, terkapar
di jalan-jalan besar di kota kami

"Kapan janji tivi terbukti?"

kamu bertanya padaku terus
tunggulah enam jam lagi
karena enam minggu sudah tidak basah atap-atap rumah, payung tua

"sebentar lagi"

lalu angin datang sepoi-sepoi
disambut genderang ribut dari timur, berteriak
hujan tumpah ruah miring bersama angin

"Yuk, kita tidur saja" 
"Kenapa?"
"Hujannya akan turun enam jam, kata tivi, tadi malam"
bangun-bangun, semoga tak banjir enam jengkal lagi


Bintaro, 10/11/14

Minggu, 16 November 2014

Lima Jari



Disana ada lima jari dalam setangan lengkap
di kota itu, lima jari menyenggol bising dari kerumunan
menghentak, menjentik-jentik sibuk duniawi
dan lima jari itu membuat merah kesunyian

Disana yang lain
ada lima jari yang awalnya setangan lengkap
menyapih rambut hati yang lemah terkulai
dalam kesederhanaan rumpun hijau mata air
lima jari itu bercengkrama satu dengan yang lain
dalam hangat, dalam kecup tenang

Lalu telunjuk lenyap dimakan tanah
karena telah pergi satu yang dsapih
disusul yang tengah, manis, kelingking
hingga jari tak bisa apa-apa lagi
merentang nasib, ditelan tradisi

Kenapa tidak sekalian pemerintah datang berkunjung
lalu panggil pemukanya, buatkan keluarga berencana
agar jari tidak hilang-hilang
biar tidak lenyap lima, paling dua atau tiga
setidaknya tidak kalah sama yg di kota, pedagang jari, membeli lima

Bintaro, 9/11/14

Jumat, 14 November 2014

Empat







Ada empat kilometer jarak
rumahku ke rumahmu yang kita tempuh
tiap hari, bersama kayuh sepeda pagi
bersama aspal dingin dan embun rumput terpinggir

Ada empat roda yang menggelinding tiap pagi
dari rumahmu ke rumahku, putarnya pelan saja
sambil bercengkrama pada yang disampingnya
tapi ternyata itu jadi tawa, dari kisah karet yang digesek

selalu ada empat mata yang menyipit
sepagi-pagi sekali saling memandang
lalu melihat sekitar, menyisir jingga dari kelopak
atau saling menertawakan yang tertinggal di pinggirnya

Tapi, itu tak disangka tawa terakhir dari yang empat
karena pagi ini, ada empat roda yang berputar gelisah
tak bergairah
ditenteng dua tangan kecil,  mata bersama kacanya
juga sungai mengalir diantaranya
dari rumahku ke rumahmu
yang di tanah
sedalam empat masa

Bintaro, 8/11/14