Aku
melihat puisi dari raut wajahmu
tergores, menginpirasi nalar
meliuk-liuk dari pipimu ke dagu
lalu pada kata yang kau ucap di atas meja bundar
mengalir dalam tenang
Sepertimu yang selalu bilang
aku tak bisa berpuisi
dan tak bisa memberiku sedikitpun inspirasi
tapi kau sumber kata-kataku mengalun dari
puisi yang tak bisa kau buat ini
Aku melihat tujuh warna pelangi pada bias-bias
matamu di bawah lampu malam dan kau mewakili
bulan yang tak pernah muncul pada malamku
ada tujuh warna yang menjadi barisku, lalu
kau masih bilang tak dapat buat puisi sedikit itu
Sudah, puisi ini untukmu
terima sajalah atau tak ada lagi kataku untukmu
karena tujuh hari pun bisa kubuatkan lagi berkali-kali
jika kau memintaku, dengan wajahmu jadi inspirasi
Bintaro, 11/11/14
tergores, menginpirasi nalar
meliuk-liuk dari pipimu ke dagu
lalu pada kata yang kau ucap di atas meja bundar
mengalir dalam tenang
Sepertimu yang selalu bilang
aku tak bisa berpuisi
dan tak bisa memberiku sedikitpun inspirasi
tapi kau sumber kata-kataku mengalun dari
puisi yang tak bisa kau buat ini
Aku melihat tujuh warna pelangi pada bias-bias
matamu di bawah lampu malam dan kau mewakili
bulan yang tak pernah muncul pada malamku
ada tujuh warna yang menjadi barisku, lalu
kau masih bilang tak dapat buat puisi sedikit itu
Sudah, puisi ini untukmu
terima sajalah atau tak ada lagi kataku untukmu
karena tujuh hari pun bisa kubuatkan lagi berkali-kali
jika kau memintaku, dengan wajahmu jadi inspirasi
Bintaro, 11/11/14
Tidak ada komentar:
Posting Komentar