Kamis, 09 Juni 2016

Menanyakan Rindu





Jogja benar-benar telah menawarkan rindu
Langitnya tampak cantik karena kalian masih ada disana
Juga kenangan yang menjelma tugu di tengah-tengah jalan
Dari ketinggian tertentu aku menatap kalian dan garis imajiner
Di antara kita kian perlahan, menutup hari-hari dan ditumbuhi akar
Yang menjalar sampai ke rumah kita.

Kupikir kita akan pulang dengan siluet-siluet lama di kepala
Di depan malioboro, aku ingin menggenggam tangan kalian
Dan mengatakan bahwa cinta seperti sebuah obat pil
Tapi tidak bisa menyembuhkan luka lama di hati
Selalu ada cinta dan kalian di mimpi adik kecilmu
Selalu ada puisi tentang kalian. Di luar kepalaku,
Yang lainnya adalah asing. Selalu aku menginginkan kalian

Sesekali aku jadi suara-suara dari jauh yang cerewet
Kata-kataku selalu menuntut kepulangan dan pertemuan
Kadang aku jadi kucing penurut, menjawab iya di setiap kalimat
Lalu hanya berdiam, membayangkan senyum yang sumringah di sisi dunia yang lain disana
Kalian harus tahu, selama ini aku belajar menangis tanpa isak dan air mata
Dan sudah lama kuhentikan percakapan tentang cinta dan kematian

Perih yang paling sulit kucintai adalah perihal yang paling kalian cintai kini
Hal yang tidak ingin ku percaya bahwa kalian bahagia tanpaku
Aku pernah punya mimpi indah tentang kita bertiga, langit jogja
dan kerinduan yang kita lukis di mata-mata yang terjun darinya tetes hujan
malam-malam berikutnya, aku melihat foto keluarga yang baru tapi tanpaku
alasan utama kalian bahagia harusnya adalah aku, bukan mereka

Kita selalu tahu, kehilangan pernah merenggut dunia lama kita
Kita belajar menjauhkan diri dari segala yang terjadi waktu itu
Terjebak pada doa dan ciuman terakhir dan semesta kala itu seakan berkata
Kelak laki-laki tua akan membimbing kita ke surga, berkumpul dengan perempuan
Yang selalu kita doakan
Aku yang akan menghapus kesedihan kalian, tapi untuk saat ini
Biarkan aku menanyakan rindu untuk kesekian kalinya

Doa yang Bisa Kau Amini




Tidak pernah ada yang istimewa dari sebuah perayaan
Kecuali orang-orang yang berpura bahagia dan
Senyum yang sedetik dua detik cepat berganti
Tapi di tempat ini, teman-temanmu membicarakan tentang
betapa beruntungnya kau ada disini

Orang-orang kadang belajar dengan cara mengabaikan
Jika pada suatu pagi, kami tidak mengerti apa-apa
Dosen menjelmamu , dan aku menulis sajak tentang
Perempuan yang terlampau baik di ruangan ini

Kita akan berhenti di setiap tanggal pada tahun-tahun berikutnya
Kau tahu ada hari-hari tertentu dalam hidupmu dimana dunia akan menyapamu via suara
Memanggil-manggil dan menanyakan kabarmu
Serta sajak tentang kebahagian yang lahir sebab pernah menjadi temanmu
Hari yang ditakdirkan selalu datang kepadamu,
dan hari itu kau harus selalu

karena ada banyak doa yang bisa kau amini dan doakan kembali

Jumat, 03 Juni 2016

Bunga Bagi yang Sulit Melupakan Kekecewaan



Kau setidaknya haru tahu bagaimana laki-laki diciptakan
Mereka adalah pemaaf yang sangat handal
Tapi laki-laki pun selalu tidak bisa tidak menyisakan kekecewaan
Mereka payah untuk melupakan, terlalu payah bahkan

Maka jika dia nanti sekan menjauh
Itu bukan karena dia sedang marah atau tidak mau lagi bertemu
Tapi kekecewaan memang seperti perompak ulung\
Mengendap diam-diam, hanya saja kau tidak tahu
Lalu batas-batas tercipta  dari proses melupakan yang tidak singkat
Jauh datang dari rentetan peduli yang tidak pernah dipedulikan
Maka biasakanlah

Jadilah bunganya, yang meski rapuh tapi membuatnya tahu
Bahwa duri pun tidak hanya punya tajam yang membuat luka

Duri masih punya mawar untuk dijadikan kesayangan

Senin, 02 November 2015

Seperti Janjiku

Mudah saja untuk melepaskan
tidak melihat
tidak lagi mendengar
tidak mau lagi tahu

Tapi masa yang sudah tercipta
yang membuatku sadar bahwa
kau tidak boleh ditinggal sendiri
meski nyatanya kau tak akan pernah sepi

Hanya saja sulit untuk tidak peduli
pada masa lalu kita
yang(kuharap) jangan sampai terulang kembali
padaku, pada yang lain
cukup kau setia pada janjimu, tekadmu
cukuplah sampai aku

Hingga nanti sebisa adaku, untukmu
untuk melihatmu
untuk mendengarmu
untuk tahu
seperti janjiku

Bintaro, 3/11/2015

Sabtu, 31 Oktober 2015

Dia, Kau, dan Cerita-cerita

Dia mungkin saja jadi cerita
seperti yang dulu kau ungkap di meja dan di jalan
Dia mungkin saja jadi mereka
seperti yang kau ajaknya tuk tertawakan
atau cukup abaikan

Dia bukan tidak perhatian
tapi mencoba memberi perlindungan
dalam diam, tanpa banyak kata
melihat dari balik arah
yakinkamu bersama siapa, amankah?

Dia tidak berharap banyak
hanya sekedar menimbun jejak
dan yakinkanmu tetap bahagia
tanpa harus mengulang jejak basah yang sama

Dia tidak hanya peduli
tapi dia ingin sejenak sampai suatu hari
kalian tak saling sapa lagi
kau sudah dapat yang kau ingin
kau dambai

Dan dia tak mau banyak mengataimu tentang apa-apa
karena kau telah bilang padanya
kau tidak suka itu semua, kau cuma ingin yang kau suka
jadi dia akan jadi tetap seperti dirinya
yang peduli tanpa banyak kata

Hingga dia akan jadi cerita
seperti mereka-mereka
bisa saja kau hapus jejaknya
atau jejak kalian dihapus cerita
atau cerita hanya tak akan jadi kalian

Jumat, 23 Oktober 2015

Dipelukan Garuda

Bintang-gemintang redup senyap
Besi-besi tua renta, rantai penuh karat
Bintang-gemintang redup senyap
Besi-besi tua renta, rantai penuh karat
Pohon besar mati tiada tempat teduh
Banyak kepala yang keras seperti kepala banteng
Gagal panen dimana-mana, padi kapas percuma ditani

Aahh,,
Negeri ini porak poranda
Aku ingin cari tanah lain
Untuk ku buat sajak-sajak
Atau langit lain untuk berteduh sejenak

Atau aku ingin mati saja
Dipelukan garuda
Karena disini pemimpin sudah lupa
Dan rakyatnya menolak untuk tidak lupa

Garuda tak usah berlelah memeluk Pancasila
Cukup peluk aku, sampai aku tertidur
Bangunkan jika orang-orang sudah ingat lagi
dan Pancasila bukan lagi sekedar mantra
dan kau bukan lagi sekedar burung tua renta

Jika pun sampai aku mati
Di pelukanmu, Garuda
Biar saja
Itu lebih baik dibanding mati dipeluk negeri ini

Jumat, 02 Oktober 2015

Mulai Berhenti

Pada binar yang kesekian aku ingin berhenti
Menyebut namamu atau sekedar bertamu rindu

Teruntuk hati yang sulit dirajai, aku mulai memahami
Menerimaku dulu adalah palsu
Dan melepasku kini hanya butuh satu-dua orang lain

Lalu aku berbisik
Menunggu sejenak di depan pintu dan siap mengetuk
Sebab kupikir sesuatu yang jangan sampai kau ulangi
Sebab kuingat apa yang kau ingin ubah darimu lagi

Bila peduliku tak bisa lagi menyapa sadarmu
Rinduku seluas semesta harusnya tak usah mengawang tinggi
Dan binar yang kulihat kemarin jangan muncul kembali

Pada akhirnya seperti menunggumu tahu
Bahwa hatiku masih seperti dulu
Bahwa kau kini perlahan jauh